Langsung ke konten utama

Review Liquid Premium Cuk-rix

Seiring bertambahnya informasi di dunia daring, memberikan kesempatan kepada pengguna Personal Vaporizer untuk membuat liquid sendiri. Mengambil istilah DIY (Do It Yourself), mereka membuat untuk stok pribadi. Namun, tak sedikit dari mereka menjualnya kembali dengan harapan 'balik modal'.

Selain berbekal keahlian teknik mencampur bahan cair, proses steping juga menjadi faktor penting sebelum dinikmati sebagai liquid PV. Tak menampik kemungkinan, banyak diantaranya melupakan tes rasa dan aroma sebelum diperdagangkan kepada khalayak.

Sebut saja 'unmention', pria energik yang belum lama kenal di dunia daring. Memberikan kesempatan kepada penulis untuk mencoba rasa dan aroma dari liquid yang dikerjakannya secara berjamaah.

Alih-alih belum siap dipasarkan, karena baru memulai tes rasa dan aroma kepada pengguna PV tertentu. Juga faktor finansial yang belum mencukupi untuk di produksi secara masal. Pria ini memaparkan banyak hal kelebihan dan kekurangan dari liquid yang dimilikinya. 

Liquid (yang bisa dikatakan) premium lokal ini, dipasarkan dalam jumlah terbatas. Mengambil keuntungan yang sangat tipis, pria ini beralasan agar bisa diterima khalayak luas, disaat pengguna PV sudah mencapai titik jenuh saat mencoba liquid yang lain.

Penulis mendapatkannya dalam bentuk botol plastik transparan. Berukuran 40 ml, dibandrol dengan Rp 100 ribu per buah. 

Tidak ada label, namun pria ini menamakannya dengan sebutan 'Cuk-rix'. Memiliki aroma yang mirip permen kopi (bukan minuman kopi) dan tingkat kekentalannya bisa dibilang cukup.

Menggunakan device cloupor mini dan aspire atlantis, menuangkannya dengan hati-hati ke dalam tank RBA lalu mengocok cairannya dengan cepat. Berharap, agar liquid bisa terserap dengan baik di dalam coil tank, sebelum firing (melakukan pembakaran elektrik).

Pada hisapan pertama, aroma kopi yang dihasilkan sangat terasa. Pahit dan manis laksana minum secangkir kopi. 

Sayangnya, rasa ini tidak bertahan lama alias 'kentang' atau istilah bahasa Jawa, 'ngambang'. Sebagian cairan naik ke atas dan ikut terhisap ke dalam mulut. Honestly, cukup mengganggu aktivitas penulis saat vaping.

Uap air yang dihasilkan cukup tebal, berwarna putih dan mengingatkan penulis saat bermain cloud chaser. Bau harum kopi yang tidak terlalu menyengat, tidak mengganggu penciuman orang lain yang berada di sekitar. Bahkan ada yang berceletuk, kok ada kopi di ruangan ini? 

Dalam skala angka 1:10, penulis memberikan angka 6 dalam pertimbangan harga dan tingkat kekentalan cairan. Sekali lagi, ini adalah opini penulis pribadi. Apabila anda ingin menyanggah pengalaman ini, silakan berkomentar di bawah ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Liquid Manhattan Premium Blend - Chivere

Penulis mendapatkan informasi tentang liquid ini, dari salah satu Komunitas Personal Vaporizer di kota Surabaya. Berawal dari ajakan nongkrong bareng di salah satu sudut cafe, sembari mencoba (tester) liquid baru yang diproduksi oleh salah satu member mereka sendiri. Panggil saja ' Kuff ', sales ekslusif liquid ' Manhattan Premium Blend Liquid '. Produk yang berasal dari kota Surabaya ini, dibandrol dengan harga Rp 125 ribu per botolnya. Berkapasitas 30 ml dan komposisi campuran PG:VG = 50:50, memiliki 3 varian rasa yang cukup unik, yaitu : 

Mobile Radio Mini Rig QYT KT8900, Walau Imut tapi Gahar!

Pesatnya perkembangan teknologi sekarang ini, tak menyurutkan vendor radio komunikasi untuk terus berinovasi. Walau designnya hampir selalu sama ( kotak nan tebal ) pada setiap keluaran produknya, masih banyak orang yang minat untuk memilikinya sebagai sarana komunikasi bebas pulsa. Radio komunikasi yang paling banyak digunakan sekarang ini adalah frekuensi VHF dan UHF. Selain harganya yang murah, device ini mudah ditemukan di toko elektronik. Baik itu konvesional maupun toko online. 

Ini Kisahku Bersama Blogfam

Blogfam, kependekan dari Blogger Family. Komunitas blogger di Indonesia dan memiliki anggota terbanyak kedua setelah komunitas blog Indosiar.  Secara pribadi, baru mengetahui komunitas tersebut pada tahun 2008. Ketika saya menghadiri event Pesta Blogger tahun 2008 di Jakarta, bersama teman-teman dari komunitas Blogger Surabaya, TPC (Tugu Pahlawan Community).  Uniknya dari Pesta Blogger 2008, ada kegiatan Muktamar Blogger pada malam sebelumnya. Kopdar malam di sekitaran Bunderan HI, dan dihadiri oleh banyak blogger dari berbagai daerah.  Pada malam itu, saya berkenalan dengan blogger wanita dari komunitas Blogfam. Namun saat itu, ia dan 2 temannya menggunakan kaos yang berinisial KGB (kelompok Gendut Bersahaja). Dan siapa sangka,