Ads 468x60px

Labels

10 February 2015

Review Liquid Premium Cuk-rix

Seiring bertambahnya informasi di dunia daring, memberikan kesempatan kepada pengguna Personal Vaporizer untuk membuat liquid sendiri. Mengambil istilah DIY (Do It Yourself), mereka membuat untuk stok pribadi. Namun, tak sedikit dari mereka menjualnya kembali dengan harapan 'balik modal'.

Selain berbekal keahlian teknik mencampur bahan cair, proses steping juga menjadi faktor penting sebelum dinikmati sebagai liquid PV. Tak menampik kemungkinan, banyak diantaranya melupakan tes rasa dan aroma sebelum diperdagangkan kepada khalayak.

Sebut saja 'unmention', pria energik yang belum lama kenal di dunia daring. Memberikan kesempatan kepada penulis untuk mencoba rasa dan aroma dari liquid yang dikerjakannya secara berjamaah.

Alih-alih belum siap dipasarkan, karena baru memulai tes rasa dan aroma kepada pengguna PV tertentu. Juga faktor finansial yang belum mencukupi untuk di produksi secara masal. Pria ini memaparkan banyak hal kelebihan dan kekurangan dari liquid yang dimilikinya. 

Liquid (yang bisa dikatakan) premium lokal ini, dipasarkan dalam jumlah terbatas. Mengambil keuntungan yang sangat tipis, pria ini beralasan agar bisa diterima khalayak luas, disaat pengguna PV sudah mencapai titik jenuh saat mencoba liquid yang lain.

Penulis mendapatkannya dalam bentuk botol plastik transparan. Berukuran 40 ml, dibandrol dengan Rp 100 ribu per buah. 

Tidak ada label, namun pria ini menamakannya dengan sebutan 'Cuk-rix'. Memiliki aroma yang mirip permen kopi (bukan minuman kopi) dan tingkat kekentalannya bisa dibilang cukup.

Menggunakan device cloupor mini dan aspire atlantis, menuangkannya dengan hati-hati ke dalam tank RBA lalu mengocok cairannya dengan cepat. Berharap, agar liquid bisa terserap dengan baik di dalam coil tank, sebelum firing (melakukan pembakaran elektrik).

Pada hisapan pertama, aroma kopi yang dihasilkan sangat terasa. Pahit dan manis laksana minum secangkir kopi. 

Sayangnya, rasa ini tidak bertahan lama alias 'kentang' atau istilah bahasa Jawa, 'ngambang'. Sebagian cairan naik ke atas dan ikut terhisap ke dalam mulut. Honestly, cukup mengganggu aktivitas penulis saat vaping.

Uap air yang dihasilkan cukup tebal, berwarna putih dan mengingatkan penulis saat bermain cloud chaser. Bau harum kopi yang tidak terlalu menyengat, tidak mengganggu penciuman orang lain yang berada di sekitar. Bahkan ada yang berceletuk, kok ada kopi di ruangan ini? 

Dalam skala angka 1:10, penulis memberikan angka 6 dalam pertimbangan harga dan tingkat kekentalan cairan. Sekali lagi, ini adalah opini penulis pribadi. Apabila anda ingin menyanggah pengalaman ini, silakan berkomentar di bawah ini.

0 komentar :

Post a Comment