Ads 468x60px

Labels

20 January 2015

Review RDA Magma Paradigm (clone)

Secara pribadi, saya belum pernah menggunakan RDA sejak pertama kali mengenal Personal Vaporizer. Selama ini hanya menggunakan tank clear atomizer dengan dalih, tidak mau ribet membuat lilitan kawat sendiri selama pabrik pembuat coil masih produksi.

Suatu hari, saya menyempatkan ke salah satu toko personal vaporizer di kawasan Melaka, terpajang banyak varian liquid yang bisa dicoba secara gratis. Aturan dari tokonya, selain RDA tidak diperkenankan mencoba liquid tersebut. 

Dengan senyum manyum dan muka ditekuk, saya sempat mengajukan protes kepada penjual atas diskriminasi tersebut. Namun, aturan tetaplah aturan! Jika tidak suka, masih banyak toko lain yang masih buka.

Dari pengalaman tersebut, timbul keinginan untuk memiliki RDA sendiri. Selain bisa digunakan untuk mencoba liquid secara gratis, setidaknya bisa belajar membuat lilitan (coil) sendiri.

Berbekal informasi dari grup WA Personal Vaporizer Surabaya, saya menyatakan ingin membeli RDA Magma agar bisa menikmati rasanya (flavour) juga. Bak gayung bersambut, teman yang berinisial 'mbahkardjoe' bersedia menyuplai kebutuhan saya.

Hari Senin kemarin (19/1/2015), paketan dengan isi seperangkat RDA Magma Paradigm (clone) lengkap, dengan bonus khantal ukuran 26 sepanjang 2 meter dan kapas Koh Gen Do. Warnanya yang silver, sangat sesuai dengan warna mod Manhattan yang saya gunakan.


Hubungan japri WA kembali tercipta, bagaimana saya memulainya untuk belajar membuat lilitan. Dengan sabar dan penuh kasih sayang, seller dengan predikat Top Recomended ini menyarankan untuk instal aplikasi 'Vaper's Toolbox' pada android.



Saya mulai mempelajarinya melalui aplikasi tersebut. Ditambah dengan pengetahuan dari yutub, saya mencatat beberapa poin penting selama proses membuat lilitan (coil) tersebut.

Sesampainya di rumah, tak sabar paketan RDA saya buka dan mulai menerapkan praktek membuat lilitan (coil). Trial and Error! Itulah pertama kalinya yang saya dapatkan selama proses tersebut. 

Pada percobaan pertama, lilitan pertama tidak sama jumlahnya dengan lilitan kedua. Jadinya pada saat pertama dicoba (firing), lilitan pertama (10 gulung) menyala terlebuh dahulu daripada lilitan kedua (11 gulung).

Segera saya bongkar lagi dan membuat lilitan baru dan harus fokus dalam menghitung gulungan agar sama. Lilitan pertama dan kedua, saya berhasil mendapatkan 10 gulungan yang sama. Saat firing, nyala api dimulai dari pinggir kiri lalu ke kanan.

DOH!

Alhasil, saya pun membongkar lagi dan mulai berhati-hati saat mengerjakan. Fokus dan penuh dengan ketelitian, akhirnya saya berhasil membuat firing dari tengah ke pinggir. Alhamdulillah..!

Dirasa sudah aman terkendali, saya mulai memasukan kapas dengan hati-hati. Selain tidak ingin membuat lilitan lagi, hari sudah larut malam dan menginginkan segera untuk menikmati vaping menggunakan RDA.

Proses memasukan kapas lancar, segera memberikan beberapa tetes pada kapas. Tes firing, uap air keluar dengan baik dan tercium aroma wangi dari liquid yang saya gunakan.

Viola...! 

Uap air yang keluar dari mulut, laksana cerobong kereta api uap yang berbahan bakar batu bara. Tebal banget dan aroma wangi liquidnya sangat terasa. Rasa (flavor) yang dihasilkan dari RDA Magma Paradigm (clone) ini lebih terasa daripada saat menggunakan tank atomizer.



Saking senangnya, saya hisap berulang-ulang hingga bibir terasa panas saat menghisapnya. Tiba-tiba saya mendapatkan rasa yang teramat gosong dan tidak enak. Mungkin ini yang disebut dengan istilah 'dry hit'.

Saya pun membuka top RDA Magma Paradigm (clone), ternyata kapas yang awalnya basah sudah sangat kering. Dari perngalaman ini, saya baru menyadari bahwa kelemahan RDA terletak pada jumlah liquidnya. Tank atomizer bisa menyimpan lebih banyak liquid dan tidak cepat habis saat digunakan.

Setiap perangkat, tidak selamanya selalu sempurna. Barang yang bermerek dan terbaik pun, pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan. 

Setidaknya, melalui pengalaman yang berharga ini, saya mendapatkan banyak keuntungan. Bisa merasakan RDA Magma Paradigm (clone) dan bisa membuat lilitan (coil) sendiri. Alhamdulillah...!

Bagaimana dengan pengalaman anda?

1 komentar :

  1. Saya lagi nyari² nih buat ganti ke rda....
    Boleh juga info nya....
    Tar klo ada pertanyaan mohon bantuannya ya wicking coil hehehee

    ReplyDelete